Prodi BSA Selenggarakan Workshop Penerbitan Buku Hasil Karya Terjemah Manuskrip Arab

Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri menggelar Workshop Penerbitan Buku Hasil Karya Terjemahan Manuskrip Arab di auditorium gedung Fakultas Syariah dan Adab pada Senin (10/07/23).

Acara yang dihadiri oleh 36 mahasiswa dari semester II hingga semester VI ini, dilatarbelakangi oleh Praktik Kerja Lapangan BSA yang diadakan di museum yang mana disitu bertugas meneliti dan menerjemahkan manuskrip-manuskrip kuno dan manuskrip Nusantara berbahasa Arab agar hasil tersebut dapat menjadi suatu karya. “Untuk itu, munculah ide untuk mengadakan kegiatan workshop ini”. Tutur Kepala prodi BSA saat ditanya melalui WhatsApp.

Mas Tajuddin Ahmad, dalam sambutannya menjelaskan bahwa Belanda telah menyampaikan maafnya kepada Indonesia atas masa kolonialisme. “Mereka juga akan mengembalikan koleksi museum yang berhubungan dengan Indonesia. Ini berlangsung di Leiden (Museum Nasional Etnologi)”.

“Koleksi benda yang dimiliki oleh museum harus memiliki sumber atau referensi yang sah dan kuat. Koleksi museum di Belanda tersebut telah dibawa secara tidak sah dan secara paksa selama masa kolonial. Sumber atau referensi benda tersebut tidak kuat. Berbeda dengan benda bersejarah yang ada di Indonesia seperti manuskrip kuno baik yang ada di museum maupun koleksi pribadi. Benda tersebut memiliki sumber atau referensi yang kuat. Kepemilikan yang bersanad”. Jelas dosen BSA tersebut.

“Kalau sampai Belanda tidak mengembalikan benda bersejarah tersebut maka mereka melakukan tindakan as-saroqot (pencurian)”.

M. Bagus Ibrahim dalam pemaparan meterinya menjelaskan hal-hal seputar penerbitan buku. Dia juga menjelaskan mengenai kualitas kertas dalam percetakan, yakni kertas bookpaper dan kertas HVS. “Selera hari ini lebih kepada kertas bookpaper daripada kertas HVS”. Ucap Owner mitra karya tersebut.

Dirinya juga menjelaskan bahwa masing-masing kertas tersebut memiliki keunggulan dan kekurangan. “Bookpaper keunggulannya ringan tapi kalau sudah dibuka segelnya pasti menimbulkan bercak warna coklat jarak 1 atau 2 tahun. Sedangkan kertas HVS berat tapi tidak menimbulkan bercak”.

Dalam sela-sela penjelasannya itu, dia memberi pesan agar mahasiswa BSA dapat melahirkan buku untuk dicetak, khususnya buku berbahasa Arab. Menurutnya dengan adanya cetakan buku tersebut nantinya dapat menjadikan Unugiri berkembang dan bisa dijadikan rujukan oleh pegiat bahasa Arab daerah Bojonegoro. “Ada yang masuk ke manuskrip sebagai tugas wajib, ada yang masuk ke kamus kecil, yang lain ingin inovasi apa ya silahkan, lagu-lagu bahasa Arab misalnya. Masalah kualitas bisa berjalan karena terbilang perdana”. Tambahnya

Sementara dalam materi kedua yang disampaikan oleh Muhyin mengenai manuskrip Arab, dia menjelaskan bahwa jika ingin menerjemahkan manuskrip, harus memahami ilmunya, macam-macam terjemahan dan prinsip dasar menerjemahkan. Menurutnya yang menjadi faktor kesalahan dalam menerjemahkan diantaranya ialah tidak mengerti ilmu dan teorinya, tidak konsisten, takut taruhan dan kurang menarik. Atas permasalahan itu, dia memberikan solusi untuk buat target dan skala prioritas yang meliputi niat, tentukan, persiapkan, jadwalkan, mentoring dan cari teman.

Dirinya berpesan kepada mahasiswa BSA untuk mengurangi minat membeli buku terjemah melainkan berusaha menumbuhkan keinginan untuk melahirkan buku yang menerjemahkan bahasa Arab agar dapat mempermudah orang lain.

“2023 harus nulis”. Pungkasnya

Teks : Lia Salsabila

Diterbitkan
Dikategorikan dalam Berita
User Avatar

Oleh adminbsa

Selamat Datang di Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *