Syukuran TIM PMB BSA UNUGIRI Digelar Sederhana, Kaprodi Apresiasi Mahasiswa Berprestasi dalam Rekrutmen Maba
November 26, 2025Pelantikan ORMAWA Fakultas Syari’ah dan Adab UNUGIRI BOJONEGORO Resmi Digelar, Tekankan Pentingnya Pembentukan Karakter Melalui Organisasi
December 5, 2025
bsa.unugiri.ac.id, Bojonegoro – Husnul Khotimah, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro, sukses tampil sebagai presenter dalam ajang bergengsi 2nd Annual Islamic Conference for Learning and Management (AICLeMa) 2025 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Kegiatan tersebut dilaksanakan via Zoom Meet pada Kamis (4/12/2025).
Dalam forum ilmiah tersebut, Husnul membedah urgensi penggabungan kembali unsur sastra ke dalam mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Melalui karya yang berjudul “Reintegrasi Sastra dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam untuk Membangun Ekosistem Pembelajaran Mendalam”, Husnul menyoroti adanya kemiskinan afektif dalam proses pendidikan agama saat ini.
Menurutnya, pembelajaran PAI cenderung terlalu fokus pada aspek normatif dan doktrinal seperti fikih dan akidah semata.
“Selama ini, pendidikan agama hanya berhenti pada hafalan dan doktrin. Nah, Sastra hadir sebagai medium transformatif yang mampu menyentuh dimensi emosional, moral, dan spiritual peserta didik secara lebih mendalam,” ujar Husnul dalam presentasinya di hadapan para panelis.
Lebih lanjut, Husnul menjelaskan bahwa integrasi sastra Arab seperti puisi, prosa hikmah, dan narasi sufistik, dapat menjadi solusi untuk membangun ekosistem pembelajaran yang lebih hidup. Hal ini bertujuan agar siswa tidak hanya memahami agama secara kognitif, tetapi juga merasakannya sebagai bagian dari keindahan nilai-nilai kemanusiaan.
“Tujuannya lebih mudah menyentuh emosi peserta didik,” ujarnya.
Pemaparan Husnul tersebut diuji langsung oleh pakar dari UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Abdur Rohman. Ia memberikan apresiasi tinggi atas idenya sekaligus memberikan catatan kritis terkait implementasi gagasan tersebut di tingkat sekolah.
”Gagasan ini sangat segar karena mencoba mendobrak kekakuan kurikulum PAI melalui sentuhan sastra. Namun, tantangan besarnya adalah sejauh mana kesiapan guru agama dalam mengapresiasi teks sastra agar nilai-nilai spiritual tersebut benar-benar sampai dan tidak sekadar menjadi tempelan belaka dalam pembelajaran,” komentar Abdur Rohman.
Dalam sesi tanya jawab, Abdur Rohman juga sempat mempertanyakan status implementasi gagasan tersebut.
“Ini sebuah usulan baru atau sudah pernah dicoba?” tanyanya.
Husnul menjawab dengan lugas bahwa gagasan ini merupakan sebuah usulan segar yang masih memerlukan batasan dan fokus yang lebih tajam, khususnya pada target integrasi yang jelas, apakah akan menyasar tingkat MTs atau MA.
Husnul mengakui bahwa meski usulan ini sangat potensial, tantangan terbesarnya adalah ketersediaan sumber belajar.
”Ini bagus untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PAI, namun tentu ke depannya kita butuh penyusunan buku ajar baru yang mampu mengakomodasi integrasi sastra ini secara sistematis,” pungkas Husnul di akhir sesi.
Selain memberikan masukan, reviewer juga meminta Husnul mendemonstrasikan contoh konkret penerapan integrasi sastra Arab tersebut dalam sebuah simulasi pembelajaran. Menanggapi hal tersebut, Husnul pun mempraktikannya.
Keberhasilan Husnul dalam mempertahankan argumennya di forum nasional ini membuktikan bahwa mahasiswa BSA Unugiri mampu menghadirkan solusi kreatif atas problematika pendidikan di Indonesia.
Hal tersebut juga menegaskan posisi mahasiswa BSA Unugiri sebagai akademisi yang mampu berpikir lintas disiplin. Keberhasilan ini diharapkan menjadi pemantik bagi mahasiswa lain untuk terus mengeksplorasi kekayaan sastra Arab dalam menjawab tantangan pendidikan di era modern.
