
bsa.unugiri.ac.id, Bojonegoro – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA). Miftahul Mufid berhasil meraih Juara 3 dalam kategori Dosen dengan Karya Ilmiah Berpengaruh Bidang Bahasa dan Sastra dalam ajang yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Penghargaan tersebut menjadi bukti kontribusi akademik dosen BSA dalam pengembangan penelitian dan publikasi ilmiah di bidang bahasa dan sastra.
Dalam wawancara yang dilakukan, Mufid mengungkapkan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang dalam dunia akademik, khususnya dalam bidang penelitian dan penulisan karya ilmiah. Selain meraih juara dalam ajang tersebut, ia juga pernah memperoleh penghargaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) sebagai penulis jurnal internasional terindeks Scopus. Di tingkat program studi, ia juga mendapat apresiasi sebagai salah satu dosen penulis teraktif di Prodi BSA yang dapat dilihat melalui rekam jejak publikasi di Google Scholar dan SINTA.
Menurutnya, perjalanan tersebut berawal dari kebiasaan menulis jurnal ilmiah sejak sekitar tahun 2016. Ia menilai bahwa menulis merupakan bagian penting dari identitas seorang dosen, karena dunia akademik menuntut dosen untuk aktif melakukan penelitian serta mempublikasikan hasilnya secara ilmiah.
“Menulis itu sebenarnya identitas seorang dosen. Jika seorang dosen tidak memiliki karya tulis, rasanya ada yang kurang. Karena itu saya berusaha konsisten menulis, bahkan dalam satu tahun bisa menghasilkan dua hingga tiga artikel ilmiah,” ungkapnya.
Di balik konsistensi tersebut, tentu terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam hal manajemen waktu. Selain menjalankan tugas sebagai dosen, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan lain, seperti mengelola bidang alumni, kegiatan sosial melalui LAZISNU, menjadi manajer BMT Makkah, serta menjadi pemateri dalam sejumlah kegiatan.
Selain itu, proses penulisan jurnal ilmiah juga tidaklah singkat. Sebuah artikel ilmiah harus melalui proses penelitian yang mendalam, mulai dari pengumpulan data melalui wawancara dan observasi hingga analisis data yang dilakukan secara sistematis. Proses penelitian tersebut bahkan dapat berlangsung selama berbulan-bulan karena harus menyesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Ia juga menjelaskan bahwa menulis jurnal ilmiah berbeda dengan menulis buku. Jika buku dapat ditulis berdasarkan gagasan atau pengalaman, maka jurnal ilmiah harus didasarkan pada penelitian nyata yang didukung oleh data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Bagi Mufid, prestasi bukanlah tujuan utama dalam berkarya. Ia memandang penghargaan sebagai hasil dari konsistensi dalam menulis dan melakukan penelitian.
“Bagi saya, prestasi itu bukan tujuan utama. Kalau pun tidak mendapatkan penghargaan, saya tetap akan menulis. Awalnya saya menulis untuk kepentingan pribadi, tetapi sekarang saya ingin mengajak mahasiswa dan orang lain agar juga mampu menulis dan menghasilkan karya ilmiah,” jelasnya.
Sebagai seorang akademisi, ia juga menekankan pentingnya menjalankan tiga tugas utama perguruan tinggi, yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, ia berharap mahasiswa tidak hanya fokus pada perkuliahan, tetapi juga mampu menghasilkan karya ilmiah sebagai bagian dari pengembangan diri.
Ia juga berpesan agar mahasiswa tidak menjadi pribadi yang pasif di lingkungan kampus. Menurutnya, mahasiswa perlu aktif mengikuti berbagai kegiatan, memperluas relasi, serta mengembangkan potensi diri.
“Lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan seseorang. Jika ingin menjadi penulis, maka kita juga harus berada di lingkungan yang mendukung kegiatan menulis,” ujarnya.
Pengalaman tersebut juga ia rasakan ketika pernah diundang ke Jakarta oleh SEAMEO (Southeast Asian Ministers of Education Organization) untuk mengikuti kegiatan bersama para penulis dari berbagai negara di Asia Tenggara. Dalam kegiatan tersebut, para peserta berdiskusi, menulis, dan menghasilkan karya bersama hingga akhirnya buku yang mereka tulis berhasil diterbitkan.
Menurutnya, karya tulis merupakan salah satu cara bagi seseorang untuk meninggalkan jejak intelektual yang dapat dikenang oleh banyak orang.
“Orang bisa dikenang melalui karya tulisnya. Karena itu menulis menjadi salah satu cara untuk meninggalkan warisan pemikiran,” tuturnya.
Sebagai penutup, ia menyampaikan bahwa terdapat tiga kunci penting untuk menjadi penulis sekaligus meraih prestasi akademik, yaitu lingkungan atau komunitas yang mendukung, konsistensi (istiqomah) dalam membaca dan menulis, serta keberanian untuk mencoba.
“Yang terpenting bukan menang atau kalah, tetapi berani mencoba dan terus berkarya,” pungkasnya.
Pewarta: Infitakhatus S.F
Editor: Dewi Roichatul Jannah
