Dosen BSA Unugiri Gelar Pelatihan Flipbook Digital untuk Guru MI LP Ma’arif NU Bojonegoro
January 15, 2026
bsa.unugiri.ac.id, Bojonegoro—Sebanyak 17 mahasiswa semester akhir Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro mengikuti Ujian Seminar Proposal (Sempro) pada Selasa, (27/01/2026). Kegiatan ini merupakan tahapan penting dalam proses penyelesaian tugas akhir mahasiswa.
Ujian seminar proposal bertujuan untuk menguji kesiapan akademik mahasiswa, menilai kelayakan serta arah penelitian, sekaligus memberikan masukan ilmiah agar penelitian yang disusun memiliki landasan metodologis yang kuat dan relevan dengan pengembangan keilmuan Bahasa dan Sastra Arab.
Kaprodi BSA, Mas Tajuddin Ahmad, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan sempro tersebut dengan lancar.
“Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji kita panjatkan ke hadirat Allah Swt. sehingga kegiatan ujian seminar proposal Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Unugiri dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para dosen penguji dan pembimbing atas dedikasi dalam mendampingi mahasiswa.
“Ujian seminar proposal ini memiliki tujuan strategis, yaitu untuk menguji kesiapan akademik mahasiswa serta memberikan masukan ilmiah agar penelitian yang disusun memiliki landasan metodologis yang kuat, relevan, dan bermanfaat. Tahap ini bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan proses pembelajaran ilmiah yang sangat penting sebelum mahasiswa melangkah ke tahap penulisan skripsi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Mas Tajuddin Ahmad berharap mahasiswa mampu menyempurnakan proposal penelitiannya dan menjadikan kritik serta saran dosen sebagai bekal dalam menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas.
“Semoga proses ini melatih kedewasaan akademik, ketekunan, dan integritas ilmiah mahasiswa, serta mereka dapat menyelesaikan tugas akhir tepat waktu dengan hasil terbaik,” pungkasnya.
Sementara itu, salah satu dosen penguji, Miftahul Mufid, menjelaskan bahwa seminar proposal merupakan tahapan wajib bagi seluruh mahasiswa BSA yang akan menyelesaikan tugas akhir, baik melalui jalur skripsi maupun publikasi jurnal.
“Sempro ini menjadi hal wajib bagi seluruh mahasiswa yang ingin menyelesaikan tugas akhir. Di Prodi BSA ada dua jalur, yaitu melalui publikasi jurnal Sinta 3 atau melalui skripsi. Namun keduanya tetap harus melalui ujian proposal,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi kelancaran pelaksanaan sempro meskipun mahasiswa menghadapi berbagai keterbatasan.
“Alhamdulillah ujian proposal berjalan dengan lancar. Meski ada mahasiswa yang mengalami kesulitan, khususnya dalam menulis, saya ucapkan selamat karena mereka sudah sampai di tahap ini. Semoga ke depannya sukses dan mampu menyelesaikan skripsi dengan baik dalam waktu sekitar tiga bulan,” tuturnya.
Dari sisi peserta, Siti Irma Firnanda mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam persiapan sempro adalah manajemen waktu yang sangat terbatas.
“Tantangan terbesar adalah waktu karena informasi sempro sangat mepet dan mendadak, sehingga persiapan juga kurang. Saya sempat down, capek, bahkan nangis. Hambatan terbesar justru dari diri sendiri, terutama melawan rasa malas,” ungkapnya.
Ia juga mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari proses sempro.
“Pelajaran terpenting yang saya dapat adalah jangan menunggu informasi baru bersiap, tapi bersiap dulu sebelum informasi datang. Yang membuat susah itu bukan sempronya, tapi kita sendiri,” ujarnya.
Firnanda menambahkan bahwa meskipun sempat merasa gugup sebelum ujian, ia bersyukur mampu melewati tahap awal penyusunan skripsi.
“Deg-degan pasti, tapi alhamdulillah bisa terlewati. Ini memang bukan akhir, tapi awal dari proses panjang menuju skripsi,” katanya.
Peserta lain, M. Ali Zainal Abidin, menyampaikan bahwa tantangan terberat dalam sempro adalah menjaga fokus penelitian.
“Tantangan terberat adalah menjaga kesesuaian antara judul, rumusan masalah, dan teori agar analisis tetap fokus,” jelasnya.
Menurutnya, pertanyaan dosen yang paling menantang berkaitan dengan kebaruan penelitian.
“Pertanyaan tersulit adalah tentang kebaruan penelitian dibandingkan penelitian sebelumnya,” tambahnya.
Ia juga menilai masukan dosen sangat bermanfaat, khususnya terkait pembatasan masalah dan intensitas bimbingan.
“Pelajaran penting yang saya dapat adalah pentingnya penguasaan teori, kejelasan metodologi, dan kesiapan mental,” tutupnya.
Peserta lainnya, M. Alfianudin Afiktaputra, mengungkapkan bahwa tantangan paling berat dalam seminar proposal adalah pencarian referensi penelitian.
“Tantangan paling berat itu di mencari referensi, karena kami dari Prodi BSA dan proposal harus menggunakan bahasa Arab. Jadi harus mencari rujukan berupa buku atau jurnal berbahasa Arab, sekaligus memahami isinya. Rasanya seperti kerja dobel,” ungkapnya.
Selain itu, Alfin juga mengaku mengalami kesulitan pada bagian metodologi penelitian, khususnya saat menjelaskan langkah-langkah penelitian di hadapan dosen penguji.
“Di metodologi penelitian itu masih agak kelagapan saat menjawab pertanyaan dosen karena menggunakan bahasa akademis, jadi harus banyak mikir,” katanya.
Meski demikian, Alfin menilai proposal penelitiannya memiliki keunggulan pada penggunaan teori.
“Menurut saya yang paling kuat dari proposal saya ada di teori yang digunakan, yaitu teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Teori ini menjadi pembeda dengan penelitian sebelumnya, jadi saya cukup percaya diri,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa masukan dosen paling banyak berkaitan dengan aspek kepenulisan proposal berbahasa Arab.
“Banyak koreksi dari dosen tentang sistematika penulisan, ukuran font, tata letak, dan spasi. Karena pedoman dari fakultas dirasa belum terlalu lengkap untuk penulisan berbahasa Arab, jadi harus ekstra teliti,” tambahnya.
Dari proses seminar proposal tersebut, Alfin mengaku mendapatkan pelajaran penting terkait sikap akademik mahasiswa semester akhir.
“Pelajaran pentingnya, mahasiswa semester tua bukan berarti paling pintar. Justru semester tua itu paling butuh banyak membaca buku dan belajar lagi, karena sering merasa sudah menguasai materi padahal belum tentu,” pungkasnya.
Pelaksanaan ujian seminar proposal ini diharapkan menjadi langkah awal yang kokoh bagi mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Unugiri, dalam menyelesaikan tugas akhir secara tepat waktu dan berkualitas.
