
bsa.unugiri.ac.id, Bojonegoro – Fakultas Syariah dan Adab (FSA) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) mengadakan Pelatihan Penulisan Tugas Akhir dan Mendeley yang berlangsung di Auditorium Hasyim Asy’ari, Jumat (19/12/2025).
Mengutip surat dengan nomor: 918.3/SP.2/FSA/071088/XII/2025, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menyusun tugas akhir.
“Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kemampuan mahasiswa dalam menyusun tugas akhir yang sesuai dengan standar akademik dan panduan penulisan. Kami mengundang seluruh mahasiswa semester 7 Fakultas Syariah dan Adab untuk mengikuti kegiatan Pelatihan Penulisan Tugas Akhir.” Demikian bunyi surat tersebut.
Miftahul Mufid, Dosen Bahasa dan Sastra Arab (BSA) yang menjadi narasumber, menjelaskan bahwa tugas akhir berbobot 6 SKS ini kini memiliki dua opsi jalur penyelesaian Skripsi (minimal 70 halaman) atau Karya Ilmiah Terpublikasi (minimal SINTA 3).
”Untuk mahasiswa yang memilih jalur publikasi jurnal, wajib menjadi penulis pertama dan menyitasi minimal 5 publikasi dosen UNUGIRI,” jelas Mufid.
Dalam pemaparannya, Mufid juga menekankan aspek teknis penulisan yang ketat. Mahasiswa diwajibkan menggunakan aplikasi Mendeley untuk manajemen referensi guna menghindari plagiasi, dengan format sitasi menggunakan style Turabian 9th edition (full note).
Ia menyarankan mahasiswa untuk mulai menggunakan Mendeley sejak awal penelitian dan memastikan referensi, termasuk buku berbahasa Arab, tercatat dengan rapi. Alur penyelesaian tugas akhir ini akan dimulai dari pengajuan judul, seminar proposal, bimbingan skripsi minimal 8 kali, hingga munaqasah dan publikasi.
Sementara dalam teknik penulisan, FSA menghadirkan Khosip Ikhsan, Dosen IAI At-Tanwir Bojonegoro sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Khosip menekankan pentingnya mengubah pola pikir perfeksionis yang kerap menghambat mahasiswa. Ia mengajak peserta untuk lebih memprioritaskan penyelesaian ketimbang kesempurnaan di awal proses.
”Skripsi saya mungkin tidak sempurna, tapi saya komit menyelesaikannya tepat waktu dengan kualitas cukup baik. Ingat, done is better than perfect,” tegas Khosip memotivasi mahasiswa.
Terkait strategi teknis pengerjaan, ia menyarankan mahasiswa untuk disiplin memblokir waktu khusus.
“Misal jam 07:00-09:00 adalah jam menulis. Jangan boleh diganggu untuk meeting, kopi bareng, atau ngobrol,” tambah Khosip.
Menutup sesi, ia mengingatkan ketajaman metodologi penelitian agar tidak terjadi kerancuan.
“Normatif dan empiris beda, tidak bisa dicampur. Analisis hukum tidak sama dengan di lapangan,” pungkasnya.
